Kemungkinan Infertilitas Primer Setelah 1 Tahun Menikah

http://4.bp.blogspot.com/-TDSGihH2ehs/UvOyNJRqMoI/AAAAAAAAAAc/tVKH64_s2TM/s1600/2.gif
Bookmark and Share
Tes Sperma Pria
Infertilitas atau ketidakmampuan untuk hamil setelah 1 tahun menikah tanpa penggunaan kontrasepsi, terjadi pada 15% pasangan, beberapa diantaranya tidak memiliki riwayat medis yang mengarah pada kelainan systemreproduksi. Sekitar 30% dari pasangan infertile disebabkan oleh suami, dan 20% disebabkan kelainan dari kedua pihak pasangan. Oleh karena itu, factor dari suami berperan penting pada sekitar 50% pasangan infertile.

Ada beberapa penyebab terjadinya infertilitas pada pria:
  •  Berkurangnya jumlah produksi sperma
  • Sumbatan pada system pengeluaran sperma
  •    Terbentuknya antibody terhadap sperma
  •  Kerusakan pada testis
  •  Gangguan produksi hormone
  • Terjadinya pembesaran pembuluh darah testis.

Keadaan penyebab infertilitas tersebut dapat diketahui awalnya dnegan cara melakukan pemeriksaan riwayat medis dan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium adalah bagian penting untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya gangguan pada setiap proses reproduksi pada pria. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah:

  • Analisa Sperma
  •   Urinalisis
  •  LH
  •    FSH
  •   Prolaktin
  • Testosteron
  •  Antibodi anti-sperma.

Analisa Sperma

Kehamilan terjadi karena adanya pertemuan antara sel telur dengan sperma. Oleh karena itu pemeriksaan terhadap sperma adalah bagian utama yang harus dilakukan. Pada pemeriksaan analisa sperma yang dievaluasi adalah jumlah, kualitas gerakan dan bentuk sperma.

Adapun persiapan sebelum analisa sperma adalah tidak boleh mengalami ejakulasi baik melalui aktivitas seksuan, masturbasi ataupun pengeluaran sperma pada saat mimpi dalam waktu 2-7 hari sebelum pemeriksaan karena akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas sperma.

Urinalisis

Pemeriksaan urin lengkap sangat membantu untuk mengevaluasi keadaan infertile pada pria. Dengan pemeriksaan itu juga dapat dilihat apabila ada Rotragade Ejaculation selain berguna untuk menduga adanya infeksi di prodtat atau saluran kemih, kerusakan ginjal dan diabetes. Rotragade Ejaculation adalah suatu keadaan di mana terjadi kelainan pada saluran keluarnya sperma yang mengakibatkan sperma tidak keluar sebagaimana mestinya melainkan masuk dan keluar melalui saluran kemih.

Luteinizing Hormane (LH)

Fungsi LH pada Pria:
  • Merangsang testis untuk mensintesis hormone steroid
  •  Merangsang produksi teststeron pada sel leydig

Peningkatan kadar LH:

  •  Gagal testis primer
  •  Seminiferous tubule dysgenesis (Sindrom klinefelter)
  •   Sertoli cel failure
  • Pengukuran kadar LH penting untuk:
  •  Evaluasi intertilitas
  •  Diagnosis gangguan gonad atau pituitary
Pemeriksaan Follicle Stimulating Hormone (FSH)

Fungsi FSH pada Pria:

  • Merangsang aktivitas di tubulus seminiferus seperti: spermatogenesis, sintesis androgen protein (ABP) dan inhibin,
  • Merangsang skresi estrogen pada sel sertoli,
  • Memperkuat efek LH dalam merangsang sel Leydig dengan menambah reseptor LH pada sel tersebut.

Pemeriksaan Prolaktin

Kadar prolaksin yang tinggi pada pria dapat menghambat atau mempengaruhi sekresi hormone- hormaon seks yang berakibat spermatogenesis terganggu atau impotensi. Pemeriksaan prolaktin pada keadaan:
  • Kurangnya libido,
  • Impotensi
  •  Pasien yang mengalami pengobatan akibat tumor pituitary (pembedahan atau sinar)
  • Pemeriksaan Prolaktin dilakukan dengan aturan:
  • Pada pria umumnya stabil sepanjang hari, sampel diambil tunggal,
  •   Protein makanan dapat merangsang sekredi prolaktin tadi hipotalamus. Pasien dilarang untuk makan dan minum selama 12 jam sebelum pengambilan sampel.
  • Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 – 10.00 pagi karena adanya variasi diurnal dengan puncak pada malam dan dini hari.

Testosteron

Testosterone adalah hormone yang paling penting. Pada pria dihasilkan oleh sel Leyding (testis),

Fungsi Festosteron:

·         Mempengaruhi perkembangan sifat-sifat seks sekunder pria,
·         Memberikan feedback negative melalui pituitary dan hipotalomus, menghasilkan penurunan sekresi LH,
·         Menjaga fungsi kelenjar prostat dan vesikel seminalis.

Antibodi anti-sperma

Salah satu factor infertilitas yang disebabkan oleh pria adalah antibody terhadap sperma. Pada kasus utertilitas akibat adanya antibody anti-sperma ini, awalnya adalah karena timbulnya antibody sperma pada laki-laki. Antibody terhadap sperma ini merupakan fenomena autoimun, karena system imun membentuk antibody terhadap antigen tubuhnya sendiri, yaitu sperma.

Antibodi ini dapat ditemukan dalam darah, plasma seminal maupun terikat pada permukaan sperma. Antibodu biasanya ditemukan pada beberapa pria dengan penyakit testukular dan penyakit autoimun spermatogenesis. Dengan pemeriksaan lengkap sperma pria tersebut diharapkan menjadi salah satu acuan penanganan terhadap program kehamilan yang mungkin anda lakukan. Dengan penanganan yang tepat, buah hati yang anda inginkan, tentu akan segera dapatkan.

Kesimpulan:
  • Pemeriksaan Sperma Pria perlu dilakukan pada pasangan yang belum juga mempunyai keturunan,
  • Pemeriksaan Sperma yang dilakukan adalah; Analisa Sperma, Urinalisis, LH, FSH, Prolaktin, Testosteron Antibodi anti-sperma,
  • Pemeriksaan Sperma mendukung program kehamilan yang dilakukan pasangan suami-istri.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar